08 Mei 2012

Tenggelam dalam Bayang Ibukota


Tenggelam dalam Bayang Ibukota
Oleh : Fr. Ambrosius Lolong


Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia sangat identik dengan gaya hidup kelas atas. Hidup yang mapan, gaji yang menggiurkan, dan tawaran hidup yang lebih layak ada di Jakarta. Stereotip semacam ini dan pesatnya perkembangan Jakarta kerap kali membuat banyak orang tergiur untuk menetap di kota besar ini. Masih terekam dalam ingatanku, gambaran kota Jakarta tempo dulu lewat film-film yang dibintangi Grup Lawak Warkop DKI atau artis kondang Adi Bing Slamet dan Benyamin S. Jakarta masih sangat lengang dengan sedikit gedung-gedung pencakar langit dan udara kota yang senantiasa segar. Dalam jangka waktu yang singkat, Jakarta sudah tersihir oleh tangan-tangan pemilik modal menjadi kota megapolitan. Namun, benarkah gambaran nan indah ini dapat dirasakan setiap orang yang tinggal di Jakarta?
Aku juga punya pandangan akan Jakarta yang mampu memberikan segudang jaminan akan hidup yang layak. Sampai suatu titik, aku mendapat tugas perutusan mengunjungi orang sakit dan orang tua/jompo di wilayah Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading. Aku lebih suka menuliskan tentang mereka sebagai orang-orang yang terpinggirkan. Terpinggirkan karena mereka tidak hanya sakit atau tua tetapi memang terlupakan dari keluarga dan lingkungannya. Walaupun tidak semuanya aku kunjungi, namun perjumpaan dengan mereka sudah menjadi tanda bagiku bahwa di tengah kota yang gemerlap ini ada orang yang terpinggirkan.

Sejenak Bersama Mereka
            Kukayuh sepedaku melintasi perumahan-perumahan elit Kelapa Gading dengan secarik kertas di saku celana jeans berisikan alamat rumah yang harus kukunjungi. Sebelumnya aku bertemu dengan bapak ketua lingkungan dan beliau memberikan ancer-ancer jalan menuju alamat itu. Walau berbekal petunjuk jalan dari bapak ketua lingkungan, namun karena alamatnya tidak lengkap, aku mulai bertanya ke sana-sini.
            Pada akhirnya, aku menemukan rumah yang dimaksud, sebuah rumah kontrakan yang kecil dan terpojok. Letaknya yang di pojok dengan jalan yang sangat sempit membuat rumah ini sulit untuk diakses. Aku pun harus memarkir sepeda di ujung jalan. Rumah berukuran 2x3 m ini hanya memiliki satu jendela dan pintu yang hampir lapuk dan kondisi ini membuat keadaan rumah menjadi lembab.
            Rumah kecil itu dihuni oleh sepasang suami-istri katolik. Mereka tidak memiliki anak dan mereka juga tidak memiliki kerabat di Jakarta. Mereka hanya tinggal berdua di kota metropolitan ini. Sang suami sudah tidak bisa bekerja lagi karena penyakit yang dideritanya. Sedangkan istrinya berusaha mencukupi kehidupan sehari-hari dengan membuat makanan kecil, kemudian menjualnya. Hasilnya pun tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Pokoknya keadaan ekonomi mereka sangat memprihatinkan. Mereka sanggup bertahan hingga kini karena ada bantuan dari orang-orang Katolik di lingkungan mereka.
            Sama seperti kebanyakan orang, sepasang suami-istri ini bermigrasi dari desanya dan mencoba mengadu nasib di Jakarta. Mereka melakukan hal itu secara sadar karena tawaran kota Jakarta yang menggiurkan. Mereka berharap bisa hidup lebih baik daripada tinggal di desa. Namun sangat disayangkan, di luar dugaan, mereka mengalami berbagai kesulitan dan akhirnya bermuara pada keadaan ini. Ketika mereka bercerita, terucap jelas bahwa mereka merasa hidup seperti benalu yang terus-menerus menerima bantuan orang lain. Namun, mereka dipaksa menerima keadaan semacam ini. Selain itu, sang suami juga mengalami kekeringan rohani. Sejak jatuh sakit setahun yang lalu, dia sudah tidak bisa pergi ke Gereja dan menerima tubuh Kristus lagi. Dia hanya berharap pada pro-diakon yang membawakannya setiap minggu. Sekarang pro-diakon pun jarang datang berkunjung. Alhasil, persatuan dengan Yesus Kristus menjadi sesuatu yang langka baginya.

Titik Cerah Bunda Teresa
            Pengalaman berharga ini mengingatkanku pada Bunda Teresa. Bunda Teresa bersentuhan langsung dengan orang-orang seperti ini bahkan menyerahkan seluruh hidupnya bagi mereka. Berkaca dari pengorbanan hidup Bunda Teresa itu, aku menemukan nilai penting bagi kehidupan, khususnya, bagi formatio-ku sebagai calon imam dalam pengalaman kunjungan ini.
            Rasa Cinta. Ya itulah dasarnya. Aku merasakan godaan dalam kunjungan kala itu. Suasana rumah yang tidak nyaman dan rentan terhadap penyakit serta suasana hati keluarga yang senantiasa memadahkan mazmur keluhan membuat aku tidak betah. Aku ingin sekali mengakhiri kunjungan itu dan segera pulang. Namun, entah mengapa saat itu aku masih mau bertahan cukup lama untuk mendengarkan cerita, keluh-kesah, dan harapan mereka.
            Aku yakin bahwa semua itu terjadi karena cinta. Ya cinta. Cinta ini meneguhkanku untuk tetap setia dengan tugasku. Aku menyadari bahwa aku tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada mereka. Aku selalu berangkat kunjungan dengan bermodalkan waktu. Waktuku cukup longgar untuk perutusan ini dan inilah yang menjadi kekuatanku. Semakin lama tinggal bersama mereka, semakin terpancar kebahagiaan dari raut wajah mereka bahkan sesekali mereka juga menangis terharu. Mereka merasa memiliki teman dan yang lebih penting, mereka merasa disapa. Sebuah sapaan intim yang mampu menyentuh hati mereka. Mereka memang tenggelam dalam bayang-bayang Jakarta, tetapi keadaan ini tidak menghilangkan eksistensi mereka. Mereka sungguh-sungguh ada dan juga perlu disapa lebih hangat dengan mencintai mereka melalui cinta yang luar biasa.
            Aku memang manusia biasa yang mencoba mengabdikan diri bagi Tuhan. Aku punya kelemahan dan kekurangan. Terkadang aku juga takluk pada godaan. Namun dibalik itu semua, aku memiliki CINTA yang bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganku. Sebuah kekuatan yang sulit dijelaskan tapi sungguh dapat dirasakan. Aku yakin bahwa kekuatan cinta inilah yang mengundang, meneguhkan, dan melengkapi karya serta pelayanan Bunda Teresa sehingga beliau memberikan diri seutuhnya bagi orang-orang yang terpinggirkan. Aku yakin kalau kekuatan cinta semacam ini ada di dalam setiap hati manusia. Karena jika seseorang mencintai sesuatu, ia rela memberikan semua yang dia miliki. Itulah cinta yang luar biasa. ©

Tidak ada komentar: